Archive for the Motivasi Category
Ditulis pada tanggal 13 June 2010 oleh Aditya Perdana
SAAT berada di suatu posisi tertentu di sebuah perusahaan, dengan orang-orang yang kagum dan menghormati Anda, di situ pula ujian terbesar akan Anda hadapi. Anda merasa sukses sebagai sosok yang meniti karier dari titik nol. Dan kini Anda merasa puas, mencapai tujuan dan duduk di kursi pimpinan.
Tapi...apakah itu kesuksesan yang sebenarnya? Jangan-jangan yang Anda hadapi saat ini adalah kesuksesan semu belaka. Dibawah ini kita sama-sama akan mencari dan memahami arti sebuah kesuksesan itu seberanya.
Jabatan dan kemewahan yang tengah Anda miliki memang merupakan nilai plus dari usaha dan kerja keras yang Anda lakukan selama ini. Dari situ pula pada umumnya kesuksesan seseorang diukur. Tak urung mereka yang merasa sudah sukses di bawah jabatan tertentu menjadi angkuh dan harus jaga image.
Jika sebelumnya Anda yang selalu ceria menyapa ramah setiap orang yang Anda temui di jalan, kini jalan Anda tegak dan satu kata saja terucap dari mulut Anda, “Pagi!” tanpa senyuman ceria karena Anda merasa sudah menjadi bos dan mereka harus hormat pada Anda.
Tiba giliran makan siang Anda bergegas melirik kantin, “hmmm, bukan lagi kelas Anda,” kata Anda dalam hati. Kemudian disambarlah kunci Volvo Hitam yang Anda parkir di deretan parkir VIP dan bergegas menuju restaurant mahal yang menurut Anda cukup berkelas untuk orang seukuran Anda. Nah kelas inilah yang selama ini Anda kejar.
Ketika naik dari kelas bawah dan meloncat ke kelas atas, Anda merasa di situ Anda sukses. Jadi kalau dipikir-pikir apakah benar Anda sudah sukses? Ya jelas bukan! Banyak orang sukses yang gagal akibat menilai sebuah kesuksesan dari tercapainya tujuan yang ia inginkan. Saat ia merasa tujuan sudah tercapai, cenderung ia berhenti berusaha, dan diam di tempat.
Jelas-jelas bukan sukses namanya jika ia berhenti dan sudah merasa puas telah mencapai apa yang diinginkan. Kesuksesan lebih dari semua itu! Tak hanya diam di satu tempat saja, namun loncat ke sana kemari. Datang lebih pagi dan ucapkan selamat pagi dengan ceria pada setiap orang yang Anda temui. Duduk dan tanyakan masalah apa yang mereka hadapi. Jangan ragu untuk sesekali menyantap menu makan siang di kantin bersama bawahan Anda. Tanpa mereka tentunya kerja tim Anda tak akan berhasil.
Kenali atmosfir dari setiap mereka yang mendukung Anda. Bersikap bijak dan tetaplah berpikir, Anda bukan kelas siapa-siapa. Anda tidak akan berhenti meloncat dari kelas yang terendah menuju kelas yang lebih tinggi lagi. Dari situlah tangan Anda akan cukup besar untuk memetik setiap kesuksesan yang Anda temui di sepanjang jalan hidup Anda. Kini Anda telah memahami arti sebuah kesuksesan itu seberanarnya, dan itu hal itulah yang harus kita raih dan jaga.
Ref : metrotvnews.com
Ditulis pada tanggal 10 June 2010 oleh Aditya Perdana

Baru saja saya membuka laptop untuk memulai kegiatan blogwalking saya hari ini. kebetulan saya mendapati artikel motivasi menarik tentang perumpamaan belajar hidup dari mengemudi. Berikut ini artikel motivasi tersebut yang saya kutip di blog saya ini.
–
Beberapa minggu yang lalu, saya menumpang dalam mobil salah satu saudara untuk pergi ke acara keluarga. Perjalanan yang harus kami tempuh lumayan jauh, 2 jam lamanya. Inginnya sih saya tidur saja dan begitu membuka mata sudah sampai di tempat, tapi begitu mata terpejam dan kepala bersandar sontak saya harus terbelalak kaget dan mengambil nafas dalam. Hal itu terjadi beberapa kali karena si pengemudi mengendarai mobil secara mengerikan. Yaa.. daripada ketakutan, saya mengalihkan perhatian dengan berpikir kemana-mana dan sampailah saya di pemikiran ini.
Mengawali mengemudi
Sebenarnya, orang hidup ini sama saja dengan orang mengemudikan kendaraan. Untuk mulai menjalankan kendaraan, harus dimulai dari persneling yang paling rendah, yang paling berat. Begitu pun dengan hidup, untuk memulainya kita selalu berjuang dari bawah. Tidak ada seorang pun yang bisa memulai sesuatu langsung di atas, semuanya harus dipelajari dan diawali dulu. Jika mulai menjalankan kendaraan pada persneling dua, kendaraan akan tersengal-sengal dan kemudian mesinnya akan mati. Jika tetap ingin menjalankannya pada persneling dua, kita harus menekan pedal gas agak dalam. Artinya dibutuhkan usaha lebih untuk memulainya.
Menaikkan persneling
Kecepatan bertambah secara bertahap dan harus diikuti dengan perpindahan persneling secara bertahap juga. Dalam hidup, jika ingin maju (analoginya, ingin menambah kecepatan), ingin kehidupan yang lebih baik, kita harus meningkatkan kemampuan. Jika kita tidak mau mengganti persneling, tidak mau meningkatkan kemampuan, maka seberapa kerasnya kita berusaha, hasilnya tidak akan menyamai mereka yang meningkatkan kemampuannya.
Mengurangi kecepatan, bahkan berhenti
Untuk menambah kecepatan, perpindahan persneling selalu bertahap. Namun untuk mengurangi kecepatan, perpindahan persneling bisa saja melompat dari empat ke dua atau tiga ke satu dengan bantuan rem. Pada saat-saat tertentu, kita dituntut untuk mampu mengendalikan diri yang tidak ada tahapannya, untuk keselamatan kita sendiri dan keselamatan orang lain. Contohnya dalam pekerjaan dan keluarga. Ya, kita benar dan tidak salah sedikit pun, namun pertimbangkan juga keselamatan diri kita dan apakah hal tersebut merugikan orang lain. Kadang kita dituntut untuk merelakan apa yang sudah kita usahakan dengan keras, dan memulai lagi semuanya dari awal demi kebaikan bersama.
Mengadu kecepatan dengan pengendara lain
Di jalan raya, ada banyak pengendara-pengendara lain dengan kendaraannya masing-masing. Kadang kala pengendara lain menghambat jalan kita, di kesempatan lain ada pengendara yang merongrong ingin mendahului sehingga membuat was-was. Jika kita terus melihat mobil-mobil lain baik yang di belakang maupun yang berlawanan arah, kita akan bingung dan bisa-bisa malah celaka. Tetaplah fokus ke depan, pada tujuan kita, pada peluang-peluang untuk bisa mendahului pengendara lain dan waspada terhadap hal-hal yang bisa membuat perjalanan kita gagal. Tengoklah kiri dan kanan hanya pada saat akan mengambil tindakan. Mendahului mobil lain, berbelok, berhenti, dan sebagainya.. Hal ini untuk memastikan bahwa tindakan kita tidak mencelakai orang lain dan diri sendiri, bukan untuk mengamati tingkah laku pengendara lain atau mungkin jenis mobil kendaraan lain.
Begitu pula dalam hidup, kita berlomba-lomba dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Kadang ada yang tujuannya bergesekan dengan tujuan kita, ada yang membahayakan bahkan ada pula yang tujuannya adalah menggagalkan tujuan kita. Sama dengan mengendarai mobil, jika kita terus menerus memperhatikan tingkah orang lain, tidak fokus terhadap tujuan dan apa yang ada di depan, bisa dipastikan kita gagal mencapai tujuan. Memperhatikan apa yang dilakukan orang lain itu penting sebagai pembelajaran, sebagai pertimbangan apakah keputusan kita tidak merugikan orang lain. Namun perlu diingat untuk tetap melihat ke depan dan fokus pada tujuan kita. Pencapaian hidup berada di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Maka kemudikanlah hidup dengan baik, sebagaimana mengemudikan kendaraan Anda dengan baik agar Anda dan penumpang nyaman di perjalanan dan berhasil sampai di tujuan.
sumber : metrotvnews.com
Ditulis pada tanggal 13 December 2009 oleh Aditya Perdana
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Saya mengutip cerita ini dari salah seorang sahabat di Forum Wisaha Hati dot Com (WH), semoga cerita ini dapat membuat kita sadar betapa harusnya kita bersyukur akan keadaan kita sekarang. Insya Allah, Allah SWT akan memuliakan kita, Amien…
—
Bertahun-tahun yang lalu hingga sekitar beberapa bulan yang lalu, terus terang saya menjadi seorang yang merasa kehidupan dunia ini datar-datar saja, tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri. Bagi saya saat tidurlah suatu kebahagiaan terindah. Entahlah, saya begitu menyesal atas apa yang saya miliki, istri, pekerjaan, kehidupan, kemampuan serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak sesuai harapan. Saya selalu merasa menjadi orang yang KEKURANGAN di dunia ini. Semakin kuat saya berusaha untuk merubah keadaan, yang saya terima adalah semakin banyak kekecewaan. Saya tidak tahu harus memulai dari mana, hingga suatu saat seorang “sahabat” memberikan suatu nasehat yang sungguh luar biasa dan memberikan suatu gambaran utuh tentang sebuah arti syukur dalam kehidupan. Di suatu tempat aku dan sahabatku berbincang-bincang :
“Ya…aku mengerti apa yang kau alami, tidak hanya kamu akupun sendiri pernah mengalami dan mungkin banyak orang lainnya, sekarang aku akan ambil satu kertas putih kosong dan aku tunjukkan padamu, apa yang kamu lihat ?”, ucap sahabatku.
“Aku tidak melihat apa-apa semuanya putih”, jawabku lirih.
Selengkapnya »
Ditulis pada tanggal 14 November 2009 oleh Aditya Perdana
Hari ini tanggal 14 November 2009 saya berserta seorang teman, mengikuti acara seminar wisata hati bersama ustad Yusuf Mansur dan ustad-ustad dari wisatahati.com. Acara ini diselenggarakan selama 1 hari saja dengan kepanitiaan oleh teman-teman dari ESQ Samarinda. Acaranya sangat meriah dan diikuti oleh cukup banyak peserta terutama dari kalangan ibu-ibu.
Ini kali pertama saya bertemu secara langsung dan bersalaman dengan ustad Yusuf Mansur dan para ustad wisatahati.com sungguh sangat berkesan dan bermakna bagi saya pribadi. Saya banyak membaca buku-buku beliau dan karena buku-buku beliau itu lah yang banyak membawa saya kepada hidayah Allah SWT.
Acara pertama kali dibuka dan diawali dengan sholat dhuha secara bersama-sama (bukan berjamaah) kemudian dilanjutkan dengan tausiah-tausiah dari para ustad wisatahati.com sembari menunggu kedatangan ustad Yusuf Mansur tiba. Dalam tausiah-nya Ustad Yusuf Mansur yang dibawakan dengan sangat baik dan berkharisma, saya banyak memetik hikmah, tauladan serta nilai positif dari berbagai kisah tentang keajaiban dan keutamaan sedekah. Yang membuat kita semakin percaya dan yakin akan kebesaran dan janji Allah SWT sebagai bentuk Iman dalam mencari rejeki dunia dijalan Nya.
Selengkapnya »
Ditulis pada tanggal 12 August 2009 oleh Aditya Perdana
Saya sangat senang sekali belajar, belajar berbagai hal terutama pengembangan diri (baik secara horizontal maupun vertikal), belajar segala sesuatu tentang kegemaran/hobby saya, serta belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan finansial. Saya belajar dari berbagai media dan sumber, tidak terkecuali dari film/movie. Ya, ini salah satu media pembelajaran favorite saya, karena kemasannya dan penyampaiannya yang sangat menarik.
Salah satu film kesukaan saya yang bayak memberikan motivasi dalam meraih dan menjaga cita-cita adalah film berjudul “The Pursuit of Happyness” yang diperankan oleh Will Smith. Film ini adalah film yang sangat luar biasa. Dimana dalam film ini yang berasal dari sebuah kisah nyata banyak memberikan gambaran kepada kita tentang perjuangan seorang Chris Gardner dalam mencari dan mengejar kebahagiaannya (Happiness).
Dalam perjuangannya tersebut, Chris sempat mengalami banyak tantangan, ditinggal oleh istrinya, harus mengurus anak laki-laki satu-satunya, diusir dari rumah sewaannya, dipenjara, diusir dari hotel, kehilangan teman, tidur di toilet umum, tidur di rumah homeless, sampai-sampai untuk menyambung hidupnya dan seorang anaknya dia sempat menjual darahnya sendiri. Tapi dia selalu bersikap positif dan pantang menyerah, sampai akhirnya dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya dan akhirnya berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan tahun lalu 2006 menjual sebagian kecil sahamnya yang bernilai jutaan US dollar.
Ada 2 kalimat/ucapan Chris yang selalu saya ingat dan sangat memotivasi yaitu “Don’t ever let somebody tell you, you can’t do something, not even me. When you got a Dream, you gotta protect it” Kalimat ini diucapkan Chris kepada Anak laki-lakinya di saat yang sangat sulit sehabis di tinggal istrinya dan tidak memiliki uang sedikitpun untuk hidup.
Selengkapnya »
Ditulis pada tanggal 29 July 2009 oleh Aditya Perdana
Ketika melakukan blogwalking iseng-iseng ketemu cerita menarik yang sangat-sangat bagus. Kali ini saya akan coba mengkutip cerita tersebut ke blog saya. semoga teman-teman sekalian dapat terinspirasi dari cerita ini.
Cerita ini saya sadur dari blognya Bapak Tubagus Hanafi Soeriaatmadja
“Berapa harga ayam sekarang Mak?” Saya mengajak Emak – pemilik kantin di komplek kantor saya – berteka teki.
”Teka teki kok ngono…ya jelas Emak tau to Pak.. 17 sampai 20 ribuan deh.. tergantung besarnya..”
”Berapa harga kambing sekarang Mak?”
”700 sampai 900 ribuan.. tergantung besarnya juga.. iki teka teki kok ora mutu to (ini teka-teki kok gak bermutu)?”
”Kalau harga ayam 30 tahun lalu berapa?”
Emak mengernyitkan keningnya sambil memutar-mutarkan bolpoin di jarinya ala generasi MTV kalau sedang mikir. Si Emak memang funky.
”Hmm.. sekitar seribu limaratusan Pak..”
”Kalau harga kambing 30 tahun lalu berapa?”
”Wah yen iki Emak rodo lali..(agak lupa) sik sik siiik..(bentar 3x..) seingatku sih 60ribuan.. naah teka teki sing iki sih yo rodo angel (agak susah)..tapi tetep ora mutu lho Pak”
Selengkapnya »
Ditulis pada tanggal 28 July 2009 oleh Aditya Perdana
Ada sebuah perusahaan “pembuat sisir” yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru. Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan … jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir. Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
“Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu.”
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
“Berapa banyak yang sudah anda jual?”
Mr. A menjawab: “Hanya SATU.”
Si pewawancara bertanya lagi : “Bagaimana caranya anda menjual?”
Mr. A menjawab:
” Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda – dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean.”
Selengkapnya »
Ditulis pada tanggal 24 July 2009 oleh Aditya Perdana
Pertama kali saya bertemu secara langsung dengan salah satu mentor terbaik EU (Entrepreneur University) membuat saya bertanya siapa sosok beliau ini. Kebetulan saat itu adalah kali pertama saya ikut kuliah EU setelah di ajak oleh sepupu saya untuk melihat dulu bagimana komunitas ini saling berbagi di dalam kelas.
Saya adalah orang yang buta tentang dunia bisnis/usaha. namaun saya memiliki cita-cita untuk dapat maju dan berkembang menjadi pribadi dan membangun keluarga yang memiliki kebebasan finansial. Ya, itu satu satunya alasan kenapa saya belajar dan berada disana saat itu.
Kata orang perkenalan pertama atau kesan pertama selalu di ingat sampai kapanpun. Dan itu yang berkesan bagi saya saat pertama kali datang ke EU. Mentornya yang saat itu adalah Pak Joe Hartanto yang membawakan materi tentang pengembangan diri seorang Entrepreneur.
Banyak hal yang saya dapatkan saat itu, saat pertama kali saya mengenal dunia entrepreneur yang sedikit banyaknya dijelaskan juga oleh Pak Joe. Seperti bagaimana membangun mimpi, karena orang yang besar adalah orang yang memiliki mimpi yang besar dan bagaimana meyakini mimpi tersebut dan memvisualisasikannya baik dalam pikiran dan tindakan (Action). Bagaimana saya mulai berfikir untuk memulai usaha dengan otak kanan. Bagaimana mengenal dan mengerti serta mengalahkan mental block kita. dan masih banyak lagi.
Ya, seperti kata Pak Purdi E Chandra (Presdir Primagama Group) inilah Virus Entrepreneur yang telah menginveksi diri saya. Dan dibawah ini sedikit tentang profil Pak Joe Hartanto yang saya kutip dari website tangandiatas (TDA) tentang kisah sukses seorang Joe Hartanto (“Sukses menjadi entrepreneur dan investor property“)
Selengkapnya »
Page 1 of 11