Archive for the Islam Category

Download Film Sang Murabbi

Ditulis pada tanggal 25 August 2010 oleh Aditya Perdana 1 Comment

Download film sang murabbi – Alhamdulillah, kali ini pada blog Aditya Perdana, saya bisa kembali menulis review tentang film sang murabbi yang telah dirilis tahun 2008 yang lalu. Film sang murabbi adalah sebuah film biografi yang menceritakan kehidupan Almarhum KH Rahmat Abdullah (1953-2005). Film ini disutradarai oleh Zul Ardhia. Di sepanjang film sang murabbi, banyak dijumpai dokumentasi tentang KH. Rahmat Abdullah, sementara di akhir film ini, terdapat testimonial dari KH Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro PKS), Tifatul Sembiring (Presiden PKS), dan DR Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR RI). Film Sang Murabbi ini juga dihiasi oleh dua lagu soundtrack indah yang dibawakan oleh kelompok Nasyid Izzatul Islam, yakni Sang Murobbi dan Doa Robitoh.

Sinopsis Film Sang Murabbi.

Film ini berkisah tentang perjalanan dakwah Ustadz Rahmat Abdullah (KH Rahmat Abdullah). Berawal dari persepsi positif Ustadz Rahmat muda tentang profesi guru, yang merupakan rekfleksi cita-citanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali ditanya orang, apa cita-citanya, ia akan menjawab dengan mantap: menjadi guru!

Persepsi itu kemudian menjadi elan vital yang menggerakkan seluruh energi hidup Ustadz Rahmat, ketika ia menimba ilmu di pesantren Asy Syafiiyah di bawah asuhan KH Abdullah Syafii. Bakat besar dan pemikirannya yang brilian, menjadikan Ustadz Rahmat dikagumi oleh setiap orang, terutama gurunya, KH Abdullah Syafii, yang menjadikan Ustad Rahmat muda sebagai murid kesayangannya.

Ustadz Rahmat muda mulai merintis kariernya sebagai guru selulus dari Asy Syafiiyah. Selain di almamaternya, ia juga mengajar di sekolah dasar Islam lainnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Perjalanan karier yang dipilihnya itu kemudian mempertemukannya dengan guru keduanya, Ustadz Bakir Said Abduh yang mengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI). Melalui ustadz lulusan pergururan tinggi di Mesir itu, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Ikhwanul Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Bana) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

download film sang murabbi

Situasi ini, membuat potensi bakat Ustadz Rahmat Abdullah melejit dengan banyaknya referensi bacaan yang ia konsumsi, mulai dari kitab Arab klasik yang sudah sulit dicari, sampai buku-buku sastra dan budaya. Ia pun dikenal sebagai dai yang lengkap, karena tidak cuma menguasai ilmu-ilmu Islam yang “standard” tetapi juga persoalan-persoalan kontemporer.

Potret paripurna kedaian Ustadz Rahmat terlihat ketika ia membina para pemuda di lingkungan rumahnya di kawasan Kuningan. Ustadz Rahmat menggunakan pendekatan yang masih sangat langka di kalangan dai, yaitu dengan grup teater yang didirikannya. Para pemuda itu diasuhnya dalam organisasi bernama Pemuda Raudhatul Falah (PARAF) yang menghidupkan masjid Raudhatul Falah di bilangan Kuningan dengan kegiatan-kegiatan keislaman.

Pementasan grup teater binaan Ustadz Rahmat muda itu mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Salah satunya adalah pementasan berjudul Perang Yarmuk. Pada pementasan inilah, Ustadz Rahmat dan para pemuda PARAF harus berhadapan dengan aparat yang mencoba membubarkan pementasan.

Akibat pementasan itu, Ustadz Rahmat dikenai wajib lapor. Tapi, hingga hari ini, Ustadz Rahmat tidak pernah mau meladeni aturan yang menindas kebebasan itu.

“Saya tidak akan pernah datang ke kantor kalian,” kata Ustadz Rahmat kepada Suryo, seorang aparat yang bertugas menyatroninya. “Kalau ibu saya yang memanggil, baru saya mau datang.”

Keteguhan pada prinsip dan ketegasan sikapnya itulah yang membuat Suryo ngeper. Hingga bertahun kemudian keteguhan dan ketegasan itu tetap terpelihara dengan baik, meski Almarhum harus terlibat dalam wasilah (sarana) dakwah bernama partai. Ia tetap dikenal sebagai guru ngaji, inspirator kaum muda yang progresif dan berpikiran jauh ke depan. Undangan daurah satu ke daurah yang lain tetap disambanginya. Tak ada yang berubah, termasuk ciri khas yang menjadi warisan dari kedua orang tuanya yang mulia: kesederhanaan.

Ustadz Rahmat memang berada di jenjang tertinggi partai, serta terpilih pula sebagai wakil rakyat di DPR pusat. Namun, ia kerap dipergoki sedang menyetop bus kota untuk mendatangi sebuah undangan. Ia kerap terlihat jalan kaki untuk jarak yang cukup jauh. Tak ada yang berubah, karena ia sadar betul bahwa langkah itulah yang dimulainya dulu sebagai permulaan di jalan dakwah.

Hingga akhirnya, di sebuah hari yang sibuk dan berat, Ustadz Rahmat merasakah tanda-tanda kesehatannya terganggu. Namun, rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap amanah dakwah, membuat ia tak begitu mempedulikan tanda-tanda itu.

Ia masih terlibat dalam sebuah syuro penting. Lalu, saat adzan berkumandang dan ia beranjak untuk memenuhi panggilan suci itu, ia berjalan ke tempat wudhu. Saat berwudhu, tanda-tanda itu makin kuat, menelikung pembuluh darah di bagian lehernya. Ia coba untuk menyempurnakan wudhunya, tapi rasa sakit yang merejam-rejam kepalanya membuatnya limbung.

Disaksikan oleh Ustadz Mahfudzi, salah seorang muridnya, Ustadz Rahmat nyaris terjatuh. Ustadz Mahfudzi cepat memapahnya, lalu mencoba menyelamatkan situasi. Tetapi Allah lebih sayang kepada Ustadz Rahmat Abdullah. Innalillahi wa innailaihi raaji’uun…Syaikhut Tarbiyah itu meninggalkan kita dengan senyum yang amat tulus…hujan air mata dari seluruh pelosok tempat mengiringi kepulangan beliau.

Download Film Sang Murabbi

Mirror EnterUpload

1
2
http://www.enterupload.com/0sglhzizzj61/CD1_Sang_Murabbi_VCDRip_www.cyberload.tk.rmvb.html
http://www.enterupload.com/8814yzznwevh/CD2_Sang_Murabbi_VCDRip_www.cyberload.tk.rmvb.html

Mirror RapidShare

1
2
3
4
5
http://rapidshare.com/files/303631900/sang_murabbi.wmv.001
http://rapidshare.com/files/303633109/sang_murabbi.wmv.002
http://rapidshare.com/files/303631989/sang_murabbi.wmv.003
http://rapidshare.com/files/303631669/sang_murabbi.wmv.004
http://rapidshare.com/files/303629384/sang_murabbi.wmv.005

Mirror HotFile

1
2
3
4
5
http://hotfile.com/dl/16892730/32349d4/sang_murabbi.wmv.001.html
http://hotfile.com/dl/16892869/7fcd93e/sang_murabbi.wmv.002.html
http://hotfile.com/dl/16893332/9ff1251/sang_murabbi.wmv.003.html
http://hotfile.com/dl/16893511/0b22efa/sang_murabbi.wmv.004.html
http://hotfile.com/dl/16893543/7a59bbf/sang_murabbi.wmv.005.html

Soundtrack Film Sang Murabbi


Semoga dengan adanya film ini sekamin menambah ukhuwah kita terhadap dakwah islam. Amien…

Semoga bermanfaat…

Doa Buka Puasa Yang Shahih Menurut Rasulullah

Ditulis pada tanggal 23 August 2010 oleh Aditya Perdana 3 Comments

Doa Buka Puasa Yang Shahih Menurut Rasulullah – Dalam blog Aditya Perdana saya sempat menulis sebuah artikel mengenai Doa Niat Puasa dan Doa Buka Puasa di Bulan Ramadhan dan syukur Alhamdulillah mendapatkan kritikan bahawa doa buka puasa yang berbunyi “Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim” disebutkan oleh al-Albani sebagai hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

Berdasarkan hal tersebut saya coba bertanya-tanya kepada para ustad melalui konsultasi online tentunya dan saya juga membaca-baca  banyak artikel yang membahas kelemahan dari hadis ini :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم

“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”

Hadits diatas diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.

Hadis ini juga termasuk salah satu dari 12 hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan yang ditulis oleh Yulian Purnama dan Muraja’ah Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar dalam artikel muslim.or.id

Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa :

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah

(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

Oleh karena itu, sebaiknya doa ini yang dibaca di saat berbuka puasa. Namun demikian, bukan berarti doa buka puasa yang pertama tidak boleh dipakai. Sebab, terkait dengan doa selama baik dan tidak bertentangan dengan syariat, itu boleh diamalkan.

Ada satu hadis menarik lagi yang menerangkan pentinggnya berdoa saat kita berbuka puasa, yaitu

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم

“Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak, orang yang berpuasa ketika berbuka, penguasa yang adil dan orang yang dizhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat, Amien…

The Most Beautiful 99 Asmaul Husna

Ditulis pada tanggal 23 August 2010 oleh Aditya Perdana No Comments

The Most Beautiful 99 Asmaul Husna – Allah SWT memilik nama-nama paling indah yang berjumlah 99 yang dikenal dengan sebutan Asmaul Husna. Asmaul husna atau nama-nama terindah Allah SWT ini dapat kita gunakan sebagai cara untuk mengingat Allah akan kebesaran, keagungan dan kemuliannya dalam setiap dzikir dan doa kita.

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat. Cara membersihkannya adalah dengan mengingat Allah [dzikrullah]“

Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna pun telah tercermin dalam firman Allah SWT dalam surat Al-A’rof ayat 180 yang berbunyi “Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Saya sengaja membuat tulisan ini untuk mempermudah saya mengingat nama-nama mulia dan kebesaran Allah SWT, agar dalam setiap doa dan munajat kepada-Nya, saya dapat menyapanya dengan nama-nama yang baik lagi mulia. Insya Allah, Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.

“Karena itu ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat kepadamu.. [Al-Baqarah : 152] “Maka apabila kamu telah selesai shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri,duduk dan di kala berbaring.” [An-Nisa:103]

“Katakanlah olehmu, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).. [Al-Isra : 110]

The Most Beautiful 99 Asmaul Husna :

No. Nama Arab Indonesia Inggris
1
Allah
الله The God
2
Ar Rahman
الرحمن Yang Memiliki Mutlak sifat Pengasih The All Beneficent
3
Ar Rahiim
الرحيم Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang The Most Merciful
4
Al Malik
الملك Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah The King, The Sovereign
5
Al Quddus
القدوس Yang Memiliki Mutlak sifat Suci The Most Holy
6
As Salaam
السلام Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan Peace and Blessing
7
Al Mu`min
المؤمن Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan The Guarantor
8
Al Muhaimin
المهيمن Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara The Guardian, the Preserver
9
Al `Aziiz
العزيز Yang Memiliki Mutlak Kegagahan The Almighty, the Self Sufficient
10
Al Jabbar
الجبار Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa The Powerful, the Irresistible
11
Al Mutakabbir
المتكبر Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki Kebesaran The Tremendous
12
Al Khaliq
الخالق Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta The Creator
13
Al Baari`
البارئ Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan) The Maker
14
Al Mushawwir
المصور Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa (makhluknya) The Fashioner of Forms
15
Al Ghaffaar
الغفار Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun The Ever Forgiving
16
Al Qahhaar
القهار Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa The All Compelling Subduer
17
Al Wahhaab
الوهاب Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia The Bestower
18
Ar Razzaaq
الرزاق Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki The Ever Providing
19
Al Fattaah
الفتاح Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat The Opener, the Victory Giver
20
Al `Aliim
العليم Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki Ilmu) The All Knowing, the Omniscient
21
Al Qaabidh
القابض Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan (makhluknya) The Restrainer, the Straightener
22
Al Baasith
الباسط Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan (makhluknya) The Expander, the Munificent
23
Al Khaafidh
الخافض Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan (makhluknya) The Abaser
24
Ar Raafi`
الرافع Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan (makhluknya) The Exalter
25
Al Mu`izz
المعز Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya) The Giver of Honor
26
Al Mudzil
المذل Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya) The Giver of Dishonor
27
Al Samii`
السميع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar The All Hearing
28
Al Bashiir
البصير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat The All Seeing
29
Al Hakam
الحكم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan The Judge, the Arbitrator
30
Al `Adl
العدل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil The Utterly Just
31
Al Lathiif
اللطيف Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut The Subtly Kind
32
Al Khabiir
الخبير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia The All Aware
33
Al Haliim
الحليم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun The Forbearing, the Indulgent
34
Al `Azhiim
العظيم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung The Magnificent, the Infinite
35
Al Ghafuur
الغفور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun The All Forgiving
36
As Syakuur
الشكور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi (Menghargai) The Grateful
37
Al `Aliy
العلى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi The Sublimely Exalted
38
Al Kabiir
الكبير Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar The Great
39
Al Hafizh
الحفيظ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga The Preserver
40
Al Muqiit
المقيت Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan The Nourisher
41
Al Hasiib
الحسيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan The Reckoner
42
Al Jaliil
الجليل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The Majestic
43
Al Kariim
الكريم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah The Bountiful, the Generous
44
Ar Raqiib
الرقيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi The Watchful
45
Al Mujiib
المجيب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan The Responsive, the Answerer
46
Al Waasi`
الواسع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas The Vast, the All Encompassing
47
Al Hakiim
الحكيم Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana The Wise
48
Al Waduud
الودود Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta The Loving, the Kind One
49
Al Majiid
المجيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The All Glorious
50
Al Baa`its
الباعث Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan The Raiser of the Dead
51
As Syahiid
الشهيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan The Witness
52
Al Haqq
الحق Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar The Truth, the Real
53
Al Wakiil
الوكيل Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara The Trustee, the Dependable
54
Al Qawiyyu
القوى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat The Strong
55
Al Matiin
المتين Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh The Firm, the Steadfast
56
Al Waliyy
الولى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi The Protecting Friend, Patron, and Helper
57
Al Hamiid
الحميد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji The All Praiseworthy
58
Al Mushii
المحصى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi The Accounter, the Numberer of All
59
Al Mubdi`
المبدئ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai The Producer, Originator, and Initiator of all
60
Al Mu`iid
المعيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan Kehidupan The Reinstater Who Brings Back All
61
Al Muhyii
المحيى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan The Giver of Life
62
Al Mumiitu
المميت Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan The Bringer of Death, the Destroyer
63
Al Hayyu
الحي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup The Ever Living
64
Al Qayyuum
القيوم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri The Self Subsisting Sustainer of All
65
Al Waajid
الواجد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu The Perceiver, the Finder, the Unfailing
66
Al Maajid
الماجد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia The Illustrious, the Magnificent
67
Al Wahiid
الواحد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa The One, the All Inclusive, the Indivisible
68
As Shamad
الصمد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta The Self Sufficient, the Impregnable, the Eternally Besought of All, the Everlasting
69
Al Qaadir
القادر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan The All Able
70
Al Muqtadir
المقتدر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa The All Determiner, the Dominant
71
Al Muqaddim
المقدم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan The Expediter, He who brings forward
72
Al Mu`akkhir
المؤخر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan The Delayer, He who puts far away
73
Al Awwal
الأول Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal The First
74
Al Aakhir
الأخر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir The Last
75
Az Zhaahir
الظاهر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata The Manifest; the All Victorious
76
Al Baathin
الباطن Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib The Hidden; the All Encompassing
77
Al Waali
الوالي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah The Patron
78
Al Muta`aalii
المتعالي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi The Self Exalted
79
Al Barri
البر Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma The Most Kind and Righteous
80
At Tawwaab
التواب Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat The Ever Returning, Ever Relenting
81
Al Muntaqim
المنتقم Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa The Avenger
82
Al Afuww
العفو Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf The Pardoner, the Effacer of Sins
83
Ar Ra`uuf
الرؤوف Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih The Compassionate, the All Pitying
84
Malikul Mulk
مالك الملك Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan (Semesta) The Owner of All Sovereignty
85
Dzul Jalaali Wal Ikraam
ذو الجلال و الإكرام Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan The Lord of Majesty and Generosity
86
Al Muqsith
المقسط Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil The Equitable, the Requiter
87
Al Jamii`
الجامع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan The Gatherer, the Unifier
88
Al Ghaniyy
الغنى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan The All Rich, the Independent
89
Al Mughnii
المغنى Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan The Enricher, the Emancipator
90
Al Maani
المانع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah The Withholder, the Shielder, the Defender
91
Ad Dhaar
الضار Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita The Distressor, the Harmer
92
An Nafii`
النافع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat The Propitious, the Benefactor
93
An Nuur
النور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya) The Light
94
Al Haadii
الهادئ Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Petunjuk The Guide
95
Al Baadii
البديع Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencipta Incomparable, the Originator
96
Al Baaqii
الباقي Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kekal The Ever Enduring and Immutable
97
Al Waarits
الوارث Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris The Heir, the Inheritor of All
98
Ar Rasyiid
الرشيد Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai The Guide, Infallible Teacher, and Knower
99
As Shabuur
الصبور Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar The Patient, the Timeless

Mudah-mudahan dengan mengenal 99 beautiful name of Allah (Asmaul Husna) kita semakin dekat dan semakin mencintai Allah  SWT lebih dari segala-galanya. Dan itulah tujuan Akhir dari hidup kita, Amien…


Ini adalah lirik lagu dari The Most Beautiful 99 Asmaul Husna yang dinyanyikah oleh Siti Nurhaliza, semoga semakin menambah kemuliaan nama-nama mulia Allah ‘Azza wajalla…

Tata Cara Mandi Wajib yang Sempurna

Ditulis pada tanggal 19 August 2010 oleh Aditya Perdana 4 Comments

Tata Cara Mandi Wajib yang Sempurna – Sebagai seorang muslim, mandi wajib (al ghuslu) atau mandi junub adalah hal yang wajib bagi muslim dan muslimah yang sedang berhadas besar atau bernajis. Mengapa saya mengangkat tulisan tata cara mandi wajib ini pada blog Aditya Perdana adalah sebagai pengingat mengenai pentingnya mandi wajib atau mandi junub yang pasti dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan muslim yang sudah dewasa. Sama seperti wudhu yang menentukan suci tidaknya ketika kita sholat maka mandi wajib tentu menjadi pondasi paling dasar kesucian seseorang dalam setiap ibadah sholatnya. Jika mandi wajib kita tidak benar atau tidak syah, maka di khawatirkan ibadah sholat kita yang selama ini kita lakukan tidak syah pula.

Saya bukanlah seseorang yang ahli dalam hal agama, oleh karena itu tulisan ini saya kutip dari artikel www.muslim.or.id dan insya allah memang ditulis oleh seseorang yang mengerti dan berilmu. Dengan adanya tulisan ini, mudah-mudahan kita (khususnya bagi saya sendiri) menjadi faham apa saja batasan rukun atau syarat syah dari mandi wajib agar kita tidak lalai dan lupa dalam melakukannya.

Mari kita sama-sama menyimak tata cara mandi wajib yang sempurna berdasarkan dalil dan hadis yang shahih berikut ini, semoga bermanfaat, Amien…

Niat, Syarat Sahnya Mandi Wajib

Para ulama mengatakan bahwa di antara fungsi niat adalah untuk membedakan manakah yang menjadi kebiasaan dan manakah ibadah. Dalam hal mandi tentu saja mesti dibedakan dengan mandi biasa. Pembedanya adalah niat. Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Rukun Mandi Wajib

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ

Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.”[1]

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (HR. Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ ».

Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.[2]

Tata Cara Mandi Wajib yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna. Yang menjadi dalil dari bahasan ini adalah dua dalil yaitu hadits dari ‘Aisyah dan hadits dari Maimunah.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadits kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”[3]

Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”[4]

Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”[5]

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”[6]

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (HR. Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا ، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ

Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (HR. Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (HR. Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[7]

Bagaimanakah Tata Cara Mandi Wajib pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas sebagaimana telah diterangkan dalam hadits Ummu Salamah, “Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (HR. Muslim no. 330)

Untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ أَسْمَاءَ سَأَلَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ فَقَالَ « تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ »

Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya. ” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (HR. Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Kedua: Melepas kepangan sehingga air sampai ke pangkal rambut.

Dalil hal ini adalah hadits yang telah lewat,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا

Kemudian hendaklah kamu menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya.” Dalil ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub. Sedangkan mengenai mandi junub disebutkan,

ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ

Kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mengguyurkan air padanya.

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras“. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi Wajib?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf [8])

Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.[9]

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Apakah Boleh Mengeringkan Badan dengan Handuk Setelah Mandi Wajib?

Di dalam hadits Maimunah disebutkan mengenai tata cara mandi, lalu diakhir hadits disebutkan,

فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ ، فَانْطَلَقَ وَهْوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ

Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tetapi beliau tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya” (HR. Bukhari no. 276). Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama memakruhkan mengeringkan badan setelah mandi. Namun yang tepat, hadits tersebut bukanlah pendukung pendapat tersebut dengan beberapa alasan:

  1. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu masih mengandung beberapa kemungkinan. Boleh jadi beliau tidak mengambil kain (handuk) tersebut karena alasan lainnya yang bukan maksud untuk memakruhkan mengeringkan badan ketika itu. Boleh jadi kain tersebut mungkin sobek atau beliau buru-buru saja karena ada urusan lainnya.
  2. Hadits  ini malah menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengeringkan badan sehabis mandi. Seandainya bukan kebiasaan beliau, maka tentu saja beliau tidak dibawakan handuk ketika itu.
  3. Mengeringkan air dengan tangan menunjukkan bahwa mengeringkan air dengan kain bukanlah makruh karena keduanya sama-sama mengeringkan.

Kesimpulannya, mengeringkan air dengan kain (handuk) tidaklah mengapa.[10]

Demikian pembahasan kami seputar tata cara mandi wajib (al ghuslu). Tata cara di atas juga berlaku untuk mandi yang sunnah.

Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/361, Darul Ma’rifah, 1379.

[2] Penjelasannya silakan lihat di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/173-174 dan 1/177-178, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[3] Fathul Bari, 1/360.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 3/231, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, 1392.

[5] Ad Daroril Mudhiyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 61, Darul ‘Aqidah, terbitan tahun 1425 H.

[6] Shahih Fiqh Sunnah, 1/175-176.

[7] Al Ikhtiyaarot Al Fiqhiyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, ‘Alauddin Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al Ba’li Ad Dimasyqi Al Hambali, hal. 14, Mawqi’ Misykatul Islamiyah.

[8] Lihat Ad Daroril Mudhiyah, hal. 61

[9] Idem.

[10] Shahih Fiqh Sunnah, 1/181.

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Ditulis pada tanggal 12 August 2010 oleh Aditya Perdana No Comments

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia – Dalam artikel Aditya Perdana terdahulu tentang Mega Projects Masjidil Haram’s Expansion and Superblock Jabal Umar terlihat perubahan besar-besaran pada wajah masjidil haram yang merupakan kebanggan kota Mekah. Bangunan yang sangat mempesona salah satunya adalah Mekkah Royal Clock. Dimana disana terdapat sebuah jam raksasa super besar yang akan menyaingi Greenwich Mean Time atau lebih dikenal sengan singkatan GMT.

Mekkah Royal Clock adalah sebuah kompleks yang didalamnya terdapat hotel. pusat perbelanjaan, dan ruang konfrensi. Menara Mekka Royal Clock memegang rekor sebagai menara kedua tertinggi di dunia dengan ketinggian 557 m setelah menara Burj Dubai. Walaupun bagunan super megah ini belum 100% rampung, namun diperkirakan jam raksasa tersebut sudah berfungsi tepat di hari pertama bulan puasa ramadhan 1431 H ini dan jam ini akan berjalan berdasarkan Standar Waktu Arabia (AST).

Berikut ini foto-foto eksklusifd dari Mekkah Royal Clock

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia

Dengan dibangunnya jam raksasa ini di atas Menara Mekka Royal Clock diharapkan sekitar 1,5 miliar warga Muslim dunia akan mengacu waktunya dari kota Mekah. Alasan mengapa Mekah Menjadi Pusat Waktu Dunia adalah para ulama muslim percaya bahwa kota Mekah adalah pusat bumi dikarenakan kota Mekah itu merupakan “zona nol magnet” sehingga orang yang tinggal di  kota Mekah akan terhindar dari gravitasi bumi, ia akan lebih sehat, mendapatkan energi baru dan hidup lebih lama (panjang umur).

Doa Niat Puasa dan Doa Buka Puasa di Bulan Ramadhan

Ditulis pada tanggal 11 August 2010 oleh Aditya Perdana 4 Comments

Doa Niat Puasa dan Doa Buka Puasa di Bulan Ramadhan – Hari ini adalah hari pertama kita puasa, Puasa Ramadhan 1431 H, Alhamdulillah rasa syukur tiada tara terpanjat kepada Allah SWT sang pemilik seluruh jiwa dan Nabi Allah Muhammad SAW atas nikmat Islam yang saat ini selalu mengisi seluruh relug jiwa.

Sedikit mengingatkan, khususnya bagi Adik-adik saya yang mungkin ada yang lupa doa niat puasa dan doa buka puasa di bulan Ramadhan. Mumpun masih diberi kesempatan untuk berbagi di blog Aditya Perdana ini, berikut ini saya tuliskan doa niat dan berbuka puasa, semoga amal ibadah puasa dan amal-amal lain yang kita kerjakan di Bulan Ramadhan 1431 H ini diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT. Amien ya Rob…

Doa Niat Puasa (Niat Sahur)

Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’aalaa

Doa Buka Puasa

Allahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin

Bagi Anda yang belum memilik Jadwal Puasa Ramadhan 2010 atau Jadwal Imsakiah Ramadhan 1431 H, Anda juga dapat mendownloadnya di pada link yang sudah saya sedikan diatas, semoga dapat bermanfaat.

Akhir kata tidak lupa saya atas nama pribadi dan keluarga, di ijinkan untuk mengucapkan…

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1431 H


Sedekah Kepada Pengemis

Ditulis pada tanggal 4 August 2010 oleh Aditya Perdana No Comments

sedekah kepada pengemisSedekah Kepada Pengemis -  Beberapa waktu yang lalu saya sering dibingungkan dengan hukum ataupun pandangan para ulama dan islam mengenaik sedekah kepada pengemis. Jika pengemis yang benar-benar fakir dan miskin mungkin saya tidak akan merasa ragu untuk memberikan sedekah kepada mereka, tapi bagaimana jika mereka tidak seperti yang kita kira.

Dalam tulisan diblog Aditya Perdana ini saya akan berbagi sedikit hasil pertanyaan saya kepada para ustad yang ada di syariah online, atas kegundahan dan kekhawatiran saya saat memberi sedekah kepada pengemis di pingging jalan. Berikut ini pertanyaan saya dan jawaban dari para ustad pengelola syariah online.

Assalamu Alaikum Wr. Wb

Ustad, saya ingin bertanya bagaimana hukumnya saya memberi sedekah kepada pengemis yang ada dipinggir jalan, diwarung makan, atau di lampu merah ?

Saya sering melihat baik secara langsung dan tidak langsung (ditelevisi) adanya sindikat atau oknum yang memang berpura-pura menjadi pengemis atau kordinator pengemis. Saya tahu dan faham urusan setelah saya memberi sedekah kepada orang lain baik itu nantinya akan digunakan dengan benar atau tidak, itu adalah urusan Allah SWT dan kita tetap akan diberi pahala dan balasan atas sedekah kita oleh Allah SWT.

Namun didalam hati saya, saya sendiri sering merasa apa sedekah saya sudah tepat kepada orang-orang itu ? Apa sebaiknya saya memberikan sedekah saya kepada mesjid atau panti asuhan dan tempat-tempat yang memang menyalurkan zakat & sedekah kita.

Terima Kasih Ustad,

Wassalamu Alaukum Wr. Wb

Assalamu alaikum wr.wb.

Anda benar. saat ini mengemis bagi sebagian orang sudah menjadi pekerjaan tetap di mana ia kadangkala dilakukan dengan berbagai cara penipuan dan manipulasi.

Karena itu, seorang muslim jika ingin berbuat baik harus melihat dan mencermati terlebih dahulu apakah kebaikan yang ia lakukan sesuai pada sasaran dan tepat kepada yang berhak atau tidak. Nabi saw mengajarkan kita untuk terlebih dahulu berbuat baik kepada keluarga dan karib kerabat yang memang berhak. Lalu kemudian kepada tetanggan dan para koleganya yang membutuhkan.  Barulah sesudah itu kepada kalangan fakir miskin yang memang layak dibantu. Begitulah cara yang benar.

Pasalnya Allah mewajibkan kita untuk berbuat segala sesuatu secara tepat, profesional, dan tidak asal-asalan. Termasuk dalam urusan bersedekah dan memberi derma. nah, di antara bentuk profesionalitas dan ketepatan dalam berderma adalah memberikannya kepada yang memang layak dan membutuhkan; bukan kepada mereka yang pandai menipu dengan penampilannya serta tidak mendidik.

Karena itu, jika hendak memberi kepada pengemis, sebaiknya dilihat dan dicermati apakah ia memang berhak mendapat atau tidak. Kalau memberi, berilah dengan cara yang baik. Dan kalau tidak memberi, tolaklah dengan cara yang baik pula. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Semoga apa yang saya bagi dan alami disini dapat juga memberikan manfaat kepada teman-teman semua yang memiliki kekhawatiran yang sama dengan saya saat memberikan sedekah kepada pengemis yang ada di pinggir jalan. Semoga kita terus diberi rejeki oleh Allah SWT untuk terus dapat berbagi nikmat dengan saudara-saudara kita yang benar-benar membutuhkan.

Amin ya Rob…

Tausiah Ramadhan dari Ustad Yusuf Mansur

Ditulis pada tanggal 3 August 2010 oleh Aditya Perdana 2 Comments

Tausiah Ramadhan dari Ustad Yusuf Mansur -Sudah lama kiranya saya meinggalkan kegiatan blogging saya di blog Aditya Perdana ini, karena beberapa pekerjaan rutin yang cukup padat. Sudah lama rasanya tidak lagi menulis tentang dunia bisnis online, download software gratis, download lagu kenangan, dan lain-lain. Karena padatnya pekerjaan ini pula lah tidak terasa juga ternyata beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan penuh rahmah, penuh berkah, dan penuh ampunan dari Allah SWT yaitu bulan Ramadhan. Satu bulan dianatara bulan-bulan lain yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT agar umatnya dapat berlomba-lomba memohon ampunan dan memperbanyak amal soleh untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT dan mudah-mudahan kita termasuk diantara orang-orang yang beruntung itu.

Menyambut datangnya bulan ramadhan ini mari kita isi dengan menyimak tausiah ramadhan berikut ini dari ustad yusuf mansur agar kita sama-sama dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT :

Bakso Pak Gaul adalah bakso langganan seisi gang kami, bahkan seluruh komplek perumahan ini. Baksonya lezat, dijamin halal, bebas formalin, borax, dan campuran tikus. Rasanya menyantapnya setiap hari tak akan membuat bosan sedikitpun. Es kelapa mudanya juga ditanggung sedap dengan degan yang masih segar.

Saat ini bulan Sya’ban telah tiba. Dan siang itu, Pak Gaul telah berhenti di depan rumah. Kami memesan bakso dan degan segarnya.

Ramadhan nanti tetap jualan, kan, Pak?” tanya isteriku. Berbuka dengan bakso dan es degan Pak Gaul rasanya akan membuat dahaga seharian sirna seketika.

“Ya, itulah masalahnya, Bu,” jawab Pak Gaul sambil mengupas sebutir kelapa muda.

“Apa masalahnya, Pak?” tanya ibunya anak-anak lebih lanjut.

“Kalau saya jualan siang hari, kan nggak enak?” kata tukang bakso itu. Setelah menuang air kelapa, ia kini menyerut daging kelapa muda dan memasukkannya ke dalam mangkok. “Malu, Bu! Orang-orang pada puasa, saya malah jualan makanan siang-siang.”

“Ya jualannya jangan siang, Pak. Sore saja menjelang orang berbuka.”

“Kalau sore hari pas orang berbuka, saya mesti lari-lari kalau mau shalat setelah melayani orang-orang beli bakso. Kadang saya terpaksa shalat di pos satpam, mushala, numpang di rumah orang. Terburu-buru lagi. Sama sekali nggak enak, Bu.”

“Ya juga sih. Lantas rencana Pak Gaul Ramadhan nanti apa?”

Laki-laki itu sejenak seperti berpikir. Tak lama sambil menyerahkan kelapa muda pesanan kami ia menjawab. “Saya rencana prei nggak jualan dulu, Bu.”

“Lho, pasti banyak yang protes tuh Pak!”

“Saya tahu, Bu,” sahut lelaki itu. Ia kini menyiapkan dua mangkok bakso pesanan kami. “Langganan saya di kampung sebelah malah bilang, kalau saya nggak jualan saat Ramadhan nggak bakal dapat sangu lebaran, lho! Begitu katanya.”

“Benar tuh, Pak! Memangnya Pak Gaul nggak bakal kerja apa-apa selama Ramadhan?”

“Ya, nggak sih, Bu,” Pak Gaul tersenyum. Ia lalu mengambil kuah bakso dari panci besar di rombongnya. Asap mengepul dengan aroma yang membuat air liur membanjir. “Saya rencana nanti mengantar anak-anak sekolah. Ada langganan di perumahan sebelah yang menawari saya mengantarkan anak-anaknya. Jadi, saya bisa mengantar mereka pagi dan menjemput pulang siang hari.”

Dua buah mangkok kini berpindah tangan.

“Lha, penghasilannya kan tetap berkurang dong, Pak?”

“Ya, nggak apa-apa, Bu,” sahut Pak Gaul tersenyum sambil menerima uang dari isteriku dan menyerahkan kembaliannya. “Meskipun penghasilan lebih sedikit, tetapi kan saya bisa lebih konsentrasi dalam beribadah di bulan Ramadhan nanti.”

“Wah, kalau memang rencananya seperti itu, kami dukung, Pak!”

Usia kita telah berbilang tahun. Telah berpuluh kali Ramadhan datang dan pergi dari kehidupan kita. Tetapi, saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa kita tidak pernah mempersiapkan kedatangan bulan yang mulia itu dengan sebaik-baik menyambut tamu istimewa. Ia telah datang dan pergi dari sisi kita dengan begitu saja. Ia telah berulang kali menjadi bagian hidup kita, menjadi momen paling krusial untuk melebur dosa yang ada dan menjadikan kita serupa bayi kembali. Tetapi, kesempatan demi kesempatan itu seperti lewat sekadar kita jalani sebagai rutinitas belaka. Akibatnya, sebagaimana air di daun talas, ia tak memberi bekas mendalam dalam diri kita. Bukan apa. Itu semua karena kita sendirilah yang telah mengabaikannya begitu rupa.

Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa bergembira saja terhadap datangnya Ramadhan, tamu istimewa itu, Allah SWT mengharamkan jasad kita terjilat api neraka. Apalagi jika kita bisa menyikapinya lebih dari sekadar ‘bergembira’.

Jadi, apa rencana Anda pada bulan Ramadhan yang akan datang sebentar lagi?

Apakah Anda akan mengurangi jam kerja, dari 8 jam menjadi 5 jam sehari, dari 6 hari kerja menjadi 4-5 hari saja? Apakah Anda akan meliburkan diri dari shift malam? Apakah Anda tak berniat lembur lagi selama sebulan? Apakah Anda akan berpindah atau berganti pekerjaan yang lebih ringan sehingga tak mengantuk ketika Tarawih? Ataukah Anda akan mengalihkan pekerjaan di kantor untuk dikerjakan di rumah saja? Apakah Anda akan mengajukan cuti pada 10 hari terakhir, 20 hari terakhir, atau kalau perlu, sebulan penuh untuk tidak bekerja?

Jika tak ada yang kita lakukan untuk menyambut Ramadhan kecuali hanya sekadar merasa gembira saja – dan untuk itu sangatlah mudah – maka sungguh kita kalah dengan Pak Gaul, tukang bakso yang biasa lewat di depan rumah kami. Ia, yang begitu sederhana itu, rela tidak berjualan bakso yang larisnya minta ampun selama bulan Ramadhan – dan untuk itu ia akan kehilangan penghasilan bakso sebulan. Ia rela berganti pekerjaan hanya untuk antar-jemput anak-anak sekolah. Itu semua semata-mata agar ia bisa berkonsentrasi melakukan ibadah selama Ramadhan.

Betapa pikiran yang begitu sederhana, bukan? Tetapi yang sederhana itu sebenarnya bermakna sangat dalam: Pak Gaul telah melampaui batas “sekadar gembira” saja menyongsong bulan penuh berkah ini. Ia telah menyambut Ramadhan, tamu agung itu, tak sekadar dengan sesungging senyum, hati berbunga atau persiapan yang ala kadarnya. Ia telah menyambut Ramadan dengan segenap cintanya yang sederhana; yang pada kenyataannya sungguh tidaklah sederhana.

Untuk rencananya itulah, kami tak perlu merasa kehilangan jika ia tak akan muncul di ujung gang dengan teng-teng-nya yang membahana selama sebulan penuh. Kami rela ‘puasa’ menyantap bakso Pak Gaul selama Ramadhan, karena kami tahu ia ingin menjamu tamu istimewa ini dengan among-tamu yang istimewa pula.

Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah punya rencana Ramadhan seperti Pak Gaul?

Bagi Anda yang belum memiliki

Jadwal Imsakiah Ramadhan 1431 H

Silahkan download

Jadwal Puasa Ramadhan 2010

Suksesnya Manajemen Bisnis Rosulullah SAW

Ditulis pada tanggal 5 July 2010 oleh Aditya Perdana No Comments

Suksesnya Manajemen Bisnis Rosulullah SAWKali ini kita khususnya saya pribadi akan belajar dan mencoba memberikan motivasi diri dalam menjalankan bisnis yang diajarkan Rosulillah SAW dan Islam. Berikut ini adalah sebuah penjelasan dan penjabaran singkat dari Ustad Yusuf Mansur mengenai kiat-kita dan suksesnya manajemen bisnis Rosulillah SAW.

Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu memeliharanya.

Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam bisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya. (Semoga kejujuran ini dapat memberi motivasi positif dalam diri setiap kita berusaha, Amien…)

Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).

Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad SAW daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, “Ingin bisnis sukses, jalankan manajemen bisnis Muhammad SAW!”

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Rutinitas Sedekah Pagi Rosulullah SAW yang Menakjubkan

Ditulis pada tanggal 25 May 2010 oleh Aditya Perdana No Comments

rutinitas sedekah pagi rasulullah muhammad saw Bagi sebagian orang mungkin pernah mendengar kisah ini sebelumnya. Sebuah teladan yang teramat mulia yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semala hidup beliau. Ya, rutinitas sedekah setiap pagi Rasulullah SAW yang menakjubkan yang patut kita teladani.

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi ia lalui dengan selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”,tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Dari kisah diatas kita dapat ketahui betapa mulianya sifat nabi Muhammad yang suka menolong sekalipun kepada pengemis yahudi yang selalu menghinanya. Beliau tidak marah malah sebaliknya beliau menunjukkan kecintaannya kepada orang yang membencinya. Semoga ini kisah ini bisa menjadi teladan untuk kita berbuat baik kepada siapapun sekalipun kepada orang yang membenci kita.

Page 1 of 3123